Malam gelisah terpaku terpojok di kasur berguling entah apa yang aku lakukan. Kalimat itu masih saja terngiang di telinga bahkan sampai menembus ujung kulitku. Menghantuiku, bahkan membuat hidupku kini tak nyaman lagi. Aku tahu semua akan terjadi hal ini tapi rupanya aku belum siap menerima kata-kata itu. Terlalu sulit bagiku, walau tak ada beberapa menit terlontarkan tapi perlu waktu yang lama untuk tidak memikirkan hal itu.
"Rita makan dulu" teriak ibukku dari arah tengah rumah kecil ini.
"Iya bu" ucapku sambil mengusap tumbahan air mata yang menetes di pipiku.
Tidak banyak makanan yang tersaji, hanya ikan asin dan nasi yang berada di piring, bagiku ini sudah cukup asalkan ibu bisa berada di sampingku sekarang.
"Seandainya ada ayah ya bu, pasti ibu tak harus capek seperti sekarang" ucapku saat melihat ibu mengusap keringat di keningnya.
Semenjak kepergian ayah, ibulah yang menggantikan profesi sebagai pencari nafkah dengan menjual nasi uduk di warung tak jauh dari sekolahku sekarang.
"Sudahlah jangan bicara seperti itu, ada tidaknya ayahmu ibu sudah sepantasnya bertanggung jawab kepada keluarga apalagi kamu anak satu-satunya, harta berharga yang paling ibu miliki sekarang" ucap ibu yang aku lihat inginmenitikkan air mata.
Karena tak mampu mengeluarkan air mata akupun memeluk ibu. Seandaiya ayah ada dan ikut memelukku hari ini, sungguh aku rindu sekali pada ayah yang selalu menghiasi rumah tenang ini dengan guarauan humornya dan selalu membuat keluarga nyaman akan sifat pelindungnya.
Setelah selesai makan, aku menuju keluar rumah rupanya hari ini bintang-bintang menemani kesedihanku malam ini.
"Hei melamun saja" ibu mengagetkanku.
"Kenapa Rizky sudah jarang main kesini?" tanya ibu yang membuatku terdiam.
Ibu taukan kita ini keluarga sederhana dan sedangkan dia keluarga raja.
"Cinta itu tidak pandang materi, dia mengalir begitu saja tanpa paksa. Cinta itu seperti angin, yang tidak bisa di lihat tapi bisa di rasakan. Walau terkadang membuat kita sedih tapi cintalah yang membuat kita bisa menghargai dan di hargai oleh sebuah rasa dari perasaan" kata ibu yang membuat aku terkagum-kagum.
"Seandainya ibunya Rizky tau tentang makna cinta yang ibu bilang tadi, mungkin ini tidak akan terjadi" ucapku sedih.
Malam ini aku belajar sesuatu dari ibu, ya ALLAH aku tau Engkau menciptakan diriku seperti ini da aku bersyukur. ya ALLAH kalau memang Engkau tak mengijinkanku bersama laki-laki yang aku sayang, aku ikhlas dia mempunyai hidup yang baru dan aku harap Engkau mendatangkan sosok yang terbaik untuk Rizky ya ALLAH.
Pagi hari
Aku berangkat bersama ibu menuju kios kami di pinggir jalan dekat sekolah. Setelah selesai mempersiapkan julan hari ini aku berpamitan pada ibu dan menuju sekolah yang tak jauh dari kios kami.
Di jalan tiba-tiba seseorang memanggilku..
"Ri.." panggilnya.
Aku menoleh dan rupaya Rizky telah berdiri di belakangku. Akupun kembali melanjutkan perjalananku.
"Tunggu Ri.." teriak Rizky sambil menarik tanganku.
"Sebentar lagi bel, ada apa?" jawabku singkat.
"Baiklah, kita bertemu di taman pulang sekolah" jawabnya sambil melepaskan tanganku.
Tanpa mengangguk dan menggeleng aku bergegas pergi dan mengusap air mata yang hampir jatuh di depan Rizky.
"Heh tukang jual nasi uduk" ucap seseorang yang ku ketahui dia adalah Wizly seorang gadis dari keluarga kaya yang juga dekat dengan ibu Rizky.
"Maaf aku ngga mau berurusan sama kamu lagi sekarang" ucapku.
"Idih sombong banget lo, tukang jual nasi uduk pake pelet apa lo sampe-sampe Rizky anak terkaya dan terpinter seantero sekolah ini bisa suka cewek dekil, kumuh, jelek kayak lo" sindirnya tajam.
"Ada satu hal yang membedakan aku sama kamu dan mungkin itu yang membuat Rizky tidak suka kamu" ucapku dengan keadaan beruap dan dengan terburu-buru aku meninggalkan gadis menyebalkan itu.
Jam pelajaran telah usai, aku ragu akan mendatangi Rizky di taman atau tidak. Hati ini terlanjur sakit dengan perkataan itu, tapi Rizky ngga salah dia tak tau apa-apa.
"Samperin aja Ri, biar semuanya jelas dan beban di diri kamupun cepat selesai" saran Indah, sahabatku.
Aku memberanikan diri menghampiri Rizky di taman dan rupanya dia telah duduk di bangu kayu itu.
"Mau bicara apa?" tanyaku.
"Duduklah" jawabnya.
Akupun duduk dan dia mulai mengawali pembicaraan.
"Soal mamahku" ucapnya ragu.
"Tenang aja insyaALLAH aku udah maafin mamahmu kok. Aku tau dia berbicara seperti itu karena beliau sayang sama kamu, karena beliau ingin anaknya punya pasangan yang sesuai seperti keluarga besarmu dan itu tidak ada dalam diriku ky" jawabku.
"Tapi aku ngga mau pisah ri, aku sayang banget sama kamu" jawabnya sambil memegang tanganku.
"Lalu aku harus berbuat apa? Beliau ibumu yang tak menghendaki hubungan kita ini, apa kamu ingin menjadi anak pembangkang?" jawabaku hampir mengeluarkan air mata.
"Apa kamu udah ngga sayang aku Rita?" tanya Rizky dan air mata inipun keluar.
"Apa selama ini kita bersama kamu enggak ngrasain sayangku ke kanu ky?" ucapku dan menangis.
Kamipun berdiam di taman siang ini, aku takut kehilangan Rizky tapi aku juga punya kewajiban untuk mengingatkan dia bahwa ini perintah orang tuanya.
"Carilah seorang wanita yang sesuai denganmu seperti yang mamah kamu kehendaki aku berdoa semoga dialah yang terbaik buat kamu dan keluargamu" ucapku seraya melepaskan genggaman Rizky.
"Untuk saat ini aku tidak ingin membicarakan hal itu. Kamu itu cewek yang paling aku sayang. Aku ngga peduli kamu kaya atau enggak yang terpenting buatku aku nyaman banget selama ini sama kamu" ucapnya.
"Pelan-pelan saja tapi jangan kecewakan mamahmu demi aku, kamu harus tetep semangat ya ky, ayo senyum jangan cemberut" pintaku sambil memberi senyumna kecil untuk orang yang paling aku sayang di depanku ini.
"Aku masih boleh ke warung kamukan?" tanyanya.
"Tentu saja tapi jangan keseringan ya sekarang, aku ngga mau kejadian waktu itu terulang lagi. Aku hanya ingin memberi kesan baik pada mamahmu" jawabku.
Walau terlihat raut mukanya sedih dia mencoba mengangguk meskipun keraguan itu muncul dari wajahnya. Aku dan Rizky menuju kios dengan motor ninja miliknya.
Di balik punggungnya kesedihan ini tertumpah ruah.
Tuhanku penjaga setiap hati manusia, terima kasih Engkau telah memberiku anugerah terindah dengan mempertemukanku dengannya walau tak selamanya aku memilikinya ketahuilah Tuhan syukurku bisa melihat senyumnya hari ini adalah salah satu alasanaku untuk tersenyum.
Tuhanku pemegang jiwa manusia, berikan yang terbaik untuk orang yang aku sayang ini. Walau berat ketika aku harus melepaskannya tapi mungkin inilah yang bisa aku lakukan sebagai wanita yang sedang bersamanya walau sekarang kami hanya berteman.
Tuhanku jagalah dia selalu dan bahagiakanlah hidupnya. Amin..
[ Cerita ini hanya fiktif belaka apabila ada persamaan nama, tokoh, karakter dan cerita semata-mata bukan karena kesengajaan dan menyinggung orang lain. Mohon Maaf dan terima kasih]





